BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Perkembangan pemanfaatan data spasial dalam dekade
belakangan ini meningkat dengan sangat drastis. Hal ini berkaitan dengan
meluasnya pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan perkembangan
teknologi dalam memperoleh, merekam dan mengumpulan data yang bersifat
keruangan (spasial). Teknologi tinggi seperti Global Positioning System
(GPS), remote sensing dan total station, telah membuat perekaman
data spasial digital relatif lebih cepat dan mudah. Kemampuan penyimpanan yang
semakin besar, kapasitas transfer data yang semakin meningkat, dan kecepatan
proses data yang semakin cepat menjadikan data spasial merupakan bagian yang
tidak terlepaskan dari perkembangan teknologi informasi.
Sistem informasi atau data yang berbasiskan keruangan pada
saat ini merupakan salah satu elemen yang paling penting, karena berfungsi
sebagai pondasi dalam melaksanakan dan mendukung berbagai macam aplikasi.
Sebagai contoh dalam bidang lingkungan hidup, perencanaan pembangunan, tata
ruang, manajemen transportasi, pengairan, sumber daya mineral, sosial dan
ekonomi, dll. Oleh karena itu berbagai macam organisasi dan institusi
menginginkan untuk mendapatkan data spasial yang konsisten, tersedia serta
mempunyai aksesibilitas yang baik. Terutama yang berkaitan dengan perencanaan
ke depan, data geografis masih dirasakan mahal dan membutuhkan waktu yang lama
untuk memproduksinya (Rajabidfard, A. dan I.P. Williamson 2000).
1.2. Rumusan Masalah
1.
Apa saja fungsi SIG secara keseluruhan?
2.
Bagaimana Fungsi dan Manfaat SIG dalam bidang
pertanian dan perkebunan?
3.
Bagaimana data spasial dan atribut SIG untuk
kepentingan dalam bidang Pertanian dan perkebunan?
4.
Bagaimana Evaluasi Kebijakan SIG dalam Pertanian dan
Perkebuan ?
1.3. Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui fungsi SIG secara keseluruhan.
2.
Untuk mengetahui fungsi dan manfaat SIG dalam bidang
pertanian dan perkebunan.
3.
Untuk mengetahui data spasial dan atribut yang
dibutuhkan untuk bidang pertanian dan perkebunan .
4.
Untuk mengetahui evaluasi kebijakan SIG dalam
pertanian dan perkebunan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Fungsi
Sistem Informasi Geografi (SIG)
Berdasarkan
desain awalnya fungsi utama SIG adalah untuk melakukan analisis data spasial.
Dilihat dari sudut pemrosesan data geografik, SIG bukanlah penemuan baru.
Pemrosesan data geografik sudah lama dilakukan oleh berbagai macam bidang ilmu,
yang membedakannya dengan pemrosesan lama hanyalah digunakannya data digital.
Adapun
fungsi -fungsi dasar dalam SIG adalah sebagai berikut :
1. Akuisisi
data dan proses awal meliputi: digitasi, editing, pembangunan topologi, konversi
format data, pemberian atribut dll.
2. Pengelolaan
database meliputi : pengarsipan data, permodelan bertingkat, pemodelan jaringan
pencarian atribut dll.
3. Pengukuran
keruangan dan analisis meliputi : operasi pengukuran, analisis daerah
penyanggga, overlay, dll.
4. Penayangan
grafis dan visualisasai meliputi : transformasi skala, generalisasi, peta
topografi, peta statistic, tampilan perspektif.[1]
B. Fungsi SIG dalam
Bidang Pertanian dan Perkebunan
Dalam dunia
yang serba digital sekarang ini, ditambah lagi teknologi yang terus berkembang,
penerapan aplikasi teknologi dalam berbagai bidang pun terus dilakukan,
tidak terkecuali dalam sektor pertanian, sektor perekonomian utama diIndonesia
mengingat sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dalam dunia pertanian. Secara garis
besar, yang dapat dilakukan SIG dalam bidang pertanian adalah mencakup
inventarisasi, manajemen, dan kesesuaian lahan untuk pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, perencanaan tata guna lahan, dan
sebagainya.Yang dapat dibantu SIG untuk dunia pertanian adalah:
1. Mengelola Produksi Tanaman SIG dapat
digunakan untuk membantu mengelola sumber daya pertanian danperkebunan seperti
luas kawasan untuk tanaman, pepohonan, atau saluran air.Kita dapat menggunakan SIG
untuk menetapkan masa panen,mengembangkan sistem rotasi tanam, dan melakukan
perhitungan secaratahunan terhadap
kerusakan tanah yang terjadi karena perbedaan pembibitan,penanaman, atau teknik
yang digunakan dalam masa panen.
2. Mengelola Sistem Irigasi Kita dapat
menggunakan SIG untuk membantu memantau dan mengendalikanirigasi dari
tanah-tanah pertanian. SIG dapat membantu memantau kapasitassistem,
katup-katup, efisiensi, serta distribusi menyeluruh dari air di dalamsistem.
3. Perencanaan dan riwayat sumber daya kehutananPerencanaan
dan riwayat manajemen pertanahan serta integrasinya dengansistem hukum dan
integrasinya dengan manajemen basis data relasionalsistem-sistem. ArcView,
aplikasi untuk SIG penggunaan SIG ini biasanyadengan aplikasi tertentu. Yang
paling umum dipakai adalah ArcView.Walaupun saat ini penggunaan SIG dalam
bidang pertanian belum umumdipakai, karena seringnya SIG diapakai untuk melihat
kerusakan lahan akibatbencana alam, tapi bukanya tidak mungkin penerapan SIG
dalam duniapertanian akan makin sering dipakai. Sistem SIG ini bukan
semata-matasoftware atau aplikasi komputer, namun merupakan keseluruhan daripekerjaan managemen pengelolaan lahan pertanian,
pemetaan lahan,pencatatan kegiatan harian di kebun menjadi database,
perencanaan system dan lain-lain. Sehingga bisa dikatakan merupakan
perencanaan ulangpengelolaan pertanian menjadi sistem yang terintegrasi.
SIG
memberikan banyak manfaat terhadap pertanian dan perkebunan, salah satu contoh
dari fungsi SIG dalam bidang pertanian adalah :
1)
Pemantauan produksi dibidang
pertanian
Aplikasi SIG
di bidang pertanian sangat dibttuhkan guna mendapatkan hasil produksi yang
maksimal dan memuaskan. Aspek – aspek yang biasanya menggunakan aplikasi SIG
adalah pada bagian pemetaan atau peletakan komoditas yang sesuai dengan keadaan
lahan pertanian tersebut.
Peningkatan produksi dengan masukan bahan kimia yang
rendah, seperti pemupukan, sangat diperlukan karena sejak tahun 1980 kegiatan
pertanian untuk produksi pangan yang tidak terkontrol menjadi penyebab
pencemaran lingkungan. Sebagai contoh aplikasi pupuk nitrogen dan fosfor
yang berlebihan menjadi penyebab terjadinya pemanasan global dan hujan
asam. Salah satu masalah utama yang dihadapi bagi kehidupan manusia
adalah pencemaran air tanah oleh nitrogen nitrat.
Modeling produksi tanaman merupakan salah satu contoh
aplikasi SIG di bidangpertanian. Permodelan dengan menggunakan SIG menawarkan suatu
mekanismeyang mengintegrasikan berbagai jenis data (biofisik) yang dikembangkan
ataudigunakan dalam penelitian pertanian. Monitoring kondisi tanaman
pertaniansepanjang musim tanaman serta prediksi potensi hasil panen berperan
penting dalammenganalisis produksi musiman. Informasi hasil panen yang akurat
dan terkini sangatdibutuhkan oleh departemen pertanian berbagai negara.
Aplikasi SIG juga sangat membantu dalam memantau keadaan
– keadaan di sekitar wilayah pertanian tersebut, misalnya dalam mengetahui
wilayah – wilayah yang terserang hama atau penyakit, wilayah – wilayah yang
telah siap diproduksi Pemantauan ini dilakukan dari jarak jauh dengan
menggunakan aplikasi dengan sistem monitoring.
2)
Penilaian resiko usaha pertanian
SIG dapat digunakan untuk membantu mengelola sumberdaya
pertanian dan perkebunan skala kawasan yang luas secara optimal dengan resiko
gagal tanam dan gagal panen minimum. SIG menetapkan masa tanam yang tepat,
memprediksi masa panen, mengembangkan sistem rotasi tanam, dan melakukan
perhitungan secara tahunan terhadap debit, curah hujan dan scenario pola tanam
dan jenis tanam yang paling menguntungkan secara ekonomi dan teknis.
Dalam teknologi pangan, SIG dapat digunakan untuk
memetakan keberadaan tanamanpangan. Aplikasi SIG yang digunakan dalam teknologi
pangan diantaranya adalahfoodtrace dan quality trace. Aplikasi ini telah
dikembangkan oleh THailand. Denganaplikasi ini kita dapat memperoleh informasi
mengenai bahan baku suatu produk baik itu dari segi mutu dan asal bahan
baku. Di Thailand, salah satu perusahaanpengalengan jagung menggunakan aplikasi
ini untuk mencantumkan informasi bahanbaku
dan ada kode-kode yang dapat dicek oleh konsumen untuk mengetahui asalbahan
baku. Selain itu, SIG juga dapat dipergunakan untuk memetakan ketahananpangan
suatu wilayah berdasarkan data-data yang dimasukkan dalam SIG.
Penilaian risiko bisnis dilakukan dengan mengukur nilai
penyimpangan yang terjadi. Menurut (Anderson et al., 1977; Elton dan
Gruber, 1995; dan Fariyanti, 2008) terdapat beberapa ukuran risiko di antaranya
adalah nilai varian (variance), standar deviasi (standard deviation), dan
koefisien variasi (coefficient variation). Secara praktis pengukuran varian
dari penghasilan (return) merupakan penjumlahan selisih kuadrat dari return
dengan ekspektasi return dikalikan dengan peluang dari setiap kejadian (Elton
dan Gruber, 1995). Sedangkan standar deviasi dapat diukur dari akar kuadrat
dari nilai varian. Sementara itu, koefisien variasi dapat diukur dari
rasio standar deviasi dengan return yang diharapkan (expected return) dari
suatu aset. Penghasilan (return) yang diperoleh dapat berupa pendapatan,
produksi atau harga. Koefisien variasi menunjukkan variabilitas return dan
biasanya dihitung sebagai nilai persentase. Jika data penghasilan yang
diharapkan (expected return) tidak tersedia dapat digunakan nilai rata-rata
return.
Pelaku bisnis termasuk petani harus berhati-hati dalam
menggunakan varian dan standar deviasi untuk meperbandingkan risiko, karena
keduanya bersifat absolut dan tidak mempertimbangkan risiko dalam hubungannya
dengan hasil yang diharapkan. Untuk membandingkan aset dengan return yang
diharapkan, pelaku bisnis atau petani dapat menggunakan koefisien
variasi. Nilai koefisien variasi merupakan ukuran yang sangat tepat bagi
petani sebagai pengambil keputusan dalam memilih salah satu alternatif dari
beberapa kegiatan usaha untuk setiap return yang diperoleh. Dengan
menggunakan ukuran koefisien variasi, perbandingan di antara kegiatan usaha
sudah dilakukan dengan ukuran yang sama, yaitu risiko untuk setiap return.
3)
Pengendalian hama dan penyakit
Penerapan SIG pada bidang pertanian dan khususnya pada
bidang Hama dan Penyakit Tumbuhan. Contohnya adalah pemetaan penyebaran
penyakit di beberapa wilayah baik itu penyakit lama atau merupakan penyakit
baru sehingga dengan pemanfaatan SIG dapat dilakukan pencegahan. Dalam bidang
Hama dan Penyakit Tumbuhan, penerapan SIG dilakukan untuk melaksanakan
pengendalian secara dini yang bersifat kewilayahan. Dengan pemanfaatan SIG
serangan akan adanya penyakit dapat lebih diantisipasi.
Contohnya adalah pemetaan penyebaran penyakit di beberapa
wilayah baik itupenyakit lama atau merupakan penyakit baru sehingga dengan
pemanfaatan SIG dapatdilakukan pencegahan.
Dalam bidang Hama dan Penyakit Tumbuhan, penerapan SIGdilakukan untuk
melaksanakan pengendalian secara dini yang bersifat kewilayahan. Dengan
pemenfaatan SIG serangan akan adanya penyakit dapat lebih diantisipasi.
4)
Pemantauan budidaya pertanian
SIG dapat digunakan untuk membantu mengelola sumberdaya
pertanian dan perkebunan seperti luas kawasan untuk tanaman, pepohonan, atau
saluran air. SIG dapat digunakan untuk pemantauan dalam tahap budidaya tanaman
seperti dalam menetapkan masa panen, mengembangkan sistem rotasi tanam, dan
melakukan perhitungan secara tahunan terhadap kerusakan tanah yang terjadi
karena perbedaan pembibitan, penanaman, atau teknik yang digunakan dalam masa
depan. SIG membantu neginventarisasi data – data lahan perkebunantebu menjadi
lebih cepat dianalisis, seperti pada proses pembibitan, proses penanaman yang
dapat dikelola oleh pengelola kebun.
Sebagai contoh dengan penggunaan aplikasi SIG kita dapat
mengetahui keadaantanaman, parameter tanah, informasi mengenai lingkungan tumbuh
di lapang,mendeteksi pertumbuhan tanaman, kadar air tanah dan tanaman, hama dan
penyakittanaman, pemetaan sumber daya, irigasi, mengetahui kebutuhan pupuk,
menentukanposisi lahan, monitoring lingkungan, dan lain sebagainya. SIG juga
dapat digunakanuntuk membuat peta persebaran tanaman pangan dalam suatu
wilayah, petapersebaran komoditi hortikultura, jenis tanah, dan lain
sebagainya.
5)
Presisi pertanian
Pertanian Presisi (precision farming/PF) merupakan
informasi dan teknologi pada sistem pengelolaan pertanian untuk
mengidentifikasi, menganalisa, dan mengelola informasi keragaman spasial dan
temporal di dalam lahan untuk mendapatkan keuntungan optimum, berkelanjutan,
dan menjaga lingkungan. Tujuan dari PF adalah mencocokkan aplikasi
sumber daya dan kegiatan budidaya pertanian dengan kondisi tanah dan keperluan
tanaman berdasarkan karakteristik spesifik lokasi di dalam lahan. Hal
tersebut berpotensi diperolehnya hasil yang lebih besar dengan tingkat masukan
yang sama (pupuk, kapur, herbisida, insektisida, funSIGida, bibit), hasil yang
sama dengan pengurangan input, atau hasil lebih besar dengan pengurangan
masukan dibanding sistem produksi pertanian yang lain. PF mempunyai
banyak tantangan sebagai sistem produksi tanaman sehingga memerlukan banyak
teknologi yang harus dikembangkan agar dapat diadopsi oleh petani. PF
merupakan revolusi dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis teknologi
informasi.
Pertanian Presisi (precision farming/PF ) merupakan
informasi dan teknologi padasistem pengelolaan pertanian untuk
mengidentifikasi, menganalisa, dan mengelolainformasi keragaman spasial dan
temporal di dalam lahan untuk mendapatkankeuntungan optimum, berkelanjutan, dan
menjaga lingkungan. Tujuan dari PF adalah mencocokkan aplikasi sumber daya dan kegiatan budidaya pertanian dengan
kondisitanah dan keperluan tanaman berdasarkan karakteristik spesifik
lokasi di dalam lahan.Pada saat ini banyak produsen tanaman menerapkan
site-specific crop management (SSCM ). Pemantauan hasil secara
elektronis (electronic yield monitoring) seringkalimenjadi tahap pertama dalam
mengembangkan SSCM atau program
PF. Data hasiltanaman yang presisi dapat digabungkan dengan data tanah dan
lingkungan untuk memulai pelaksanaan pengembangan sistem pengelolaan
tanaman secara presisi (precision crop management system).
PF diprediksi pada geo-referencing, yaitu penandaan
koordinat geografi untuk titik-titik pada permukaan bumi. Dengan global postioning
system (GPS ) dimungkinkan menandai koordinat geografi untuk beberapaobjek
atau titik dalam 5 cm, walaupun keakuratan dari aplikasi pertanian
kisaranumumnya adalah 1 sampai 3 meter. GPS adalah sistem navigasi
berdasarkan satelityang dibuat dan dioperasikan oleh Departemen Pertahanan
Amerika Serikat. GPStelah terbukti menjadi pilihan dalam postioning system
untuk PF. Metode untuk meningkatkan keakuratan pengukuran posisi
disebut koreksi diferensial atau DGPS (differential global postiong system).
Perangkat keras yang diperlukan adalah GPS receiver, differential
correction signal receiver, GPS antenna, differential correctionantenna, dan computer/monitor interface.
PF sebagai teknologi baru yang sudah
demikian berkembang di luar Indonesia perlu segera dimulai penelitiannya di
Indonesia untuk memungkinkan perlakuan yang lebih teliti terhadap setiap bagian
lahan sehingga dapat meningkatkan produktivitas dengan meningkatkan hasil,
menekan biaya produksi dan mengurangi dampak lingkungan. Maksud tersebut
dapat dicapai dengan PF melalui kegiatan pembuatan peta hasil (yield
map), peta tanah (soil map), peta pertumbuhan (growth map),
peta informasi lahan (field information map), penentuan laju aplikasi (variable
rate application), pembuatan yield sensor, pembuatan variable
rate applicator, dan lain-lain. Penggabungan peta hasil, peta tanah, peta
pertumbuhan tanaman menghasilkan peta informasi lahan (field information map)
sebagai dasar perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan spesifik lokasi yaitu dengan
diperolehnya variable rate application. Pelaksanaan kegiatan ini
akan lebih cepat dan akurat apabila sudah tersedia variable rate applicator.
PF diprediksi pada geo-referencing,
yaitu penandaan koordinat geografi untuk titik-titik pada permukaan bumi.
Dengan global postioning system (GPS) dimungkinkan menandai
koordinat geografi untuk beberapa objek atau titik dalam 5 cm, walaupun
keakuratan dari aplikasi pertanian kisaran umumnya adalah 1 sampai 3
meter. GPS adalah sistem navigasi berdasarkan satelit yang dibuat
dan dioperasikan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. GPS
telah terbukti menjadi pilihan dalam postioning
system untuk PF. Metode untuk meningkatkan keakuratan
pengukuran posisi disebut koreksi diferensial atau DGPS (differential
global postiong system). Perangkat keras yang diperlukan adalah GPS
receiver, differential correction signal receiver, GPS antenna,
differential correction antenna, dan computer/monitor interface.
6)
Pengelolaan sumberdaya air
SIG bukan sebuah sistem yang mampu membuat keputusan
secara otomatis. SIG hanya sebuah sarana untuk mengambil data, menganalisanya,
dari kumpulan data berbasis pemetaan untuk mendukung proses pengambilan
keputusan. Teknologi SIG irigasi dapat membantu berbagai kegiatan pekerjaan
seperti keputusan luas tanam aman berdasarkan informasi debit, membantu
memecahkan masalah yang berkatan dengan kekeringan, atau keputusan tentang
lokasi jaringan irigasi mana yang perlu direhabilitasi. SIG juga bisa digunakan
untuk membantu meraih keputusan mengenai lokasi bendung baru yang memiliki
sedikit mungkin dampak lingkungan atau minimal dalam pembebasan lahan
pemukiman, berada di lokasi yang memilki resiko paling sedikit, dan berada pada
posisi topografi yang optimal untuk mengairi arel yang paling luas.
Rice Irrigation Management System (RIMS) di Tanjung
Karang, Malaysia Sistem ini dikembangkan oleh Eltaeb Saeed, Rowshon,
M.K., Amin, M.S.M. Tujuanpembangunan RIMS yang didukung teknologi SIG
(Geographic Information System)adalah untuk melakukan efisiensi penggunaan air
dan meningkatkan produktifitaslahan pertanian. Teknologi SIG berfungsi untuk
menyimpan data ke dalam basis data komputer sehingga memungkinkan untuk
melakukan analisa wilayah geografi dalamhal ini wilayah yang dilalui saluran irigasi.
Kemampuan sistem RIMS yangmenggunakan teknologi SIG dapat mengembangkan
manajemen air dengan baik.Sistem RIMS diterapkan di wilayah irigasi Tanjung
Karang, Malaysia.
Perencanaan dan pengelolaan sumberdaya air yang baik
mutlak diperlukan untuk menjaga kelestariannya. Untuk itu dipelukan informasi
yang memadai yang bisa digunakan oleh pengambil keputusan, termasuk diantaranya
informasi spasial. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan teknologi spasial
yang sedang berkembang saat ini. Sebagaian besar aplikasi SIG untuk pengelolaan
sumberdaya air masih sangat kurang di negara Indonesia meskipun perkembangan
SIG sudah maju pesat di negara-negara lain. Perencanaan dan pengelolaan
sumberdaya air harus dilakukan terpadu mulai dari sumber air sampai dengan
pemanfaatannya. Informasi secara spasial akan sangat membantu pada proses
pengambilan keputusan dalam pengelolaan sumberdaya air.
7)
Kajian biodiversitas bentang
lahan untuk kegiatan pertanian berlanjut
Dalam aspek konservasi hutan dan keragaman hayati, menentukan
area prioritas danhotspot dari keragaman hayati adalah hal paling mendasar.
Aplikasi SIG untuk ini,baik di negara maju
maupun di negara berkembang, sudah cukup banyak. Hutantropis mempunyai
peranan yang signifikan dalam perubahan iklim global. SIGmerupakan alat yang
sangat berguna dalam penelitian perubahan iklim, yaitu dalamhal
pengorganisasian data, dalam bentuk basisdata global, dan kemampuan
analisaspasial untuk pemodelan. Aplikasi SIG untuk penelitian perubahan iklim
berkembangpesat, tetapi untuk negara berkembang masih sangat terbatas.
Basisdata spasial akansemakin penting dalam hal mendukung pengambilan keputusan
yang berkaitandengan pengelolaan hutan. Beberapa basisdata global yang mencakup
area hutantropis sudah tersedia, yaitu meliputi basisdata topografi, hutan
tropis basah, iklimglobal, perubahan iklim global, citra satelit, konservasi
dan tanah. [2]
C.
Data
Spasial dan Data Atribut yang Dibutuhkan dalam SIG untuk Pertanian dan
Perkebunan
Penjelasan
aplikasi tersebut terkait dengan dimana kegiatan tersebut dilakukan, pada sistem pertanian yang bagaimana penerapkan SIG tersebut dilakukan, macam
data spatial apa saja yang
dibutuhkan dalam menyusun contoh tersebut, bagaimana manfaat penerapan SIG tersebut dalam menjalankan sistem pertanian.
§ Konsep SIG
Sumber data
untuk keperluan SIG dapat berasal dari data citra, data lapangan,survey
kelautan, peta, sosial ekonomi, dan GPS. Selanjutnya diolah dilaboratorium atau
studio SIG dengan software tertentu sesuai dengankebutuhannya untuk
menghasilkan produk berupa informasi yang berguna, bisaberupa peta
konvensional, maupun peta digital sesuai keperluan user, maka harusada input
kebutuhan yang diinginkan user.
§ Komponen SIG
Komponen utama
Sistem Informasi Geografis dapat dibagi ke dalam limakomponen utama, yaitu:
ü Perangkat keras (Hardware)
ü Perangkat lunak (Software)
ü Pemakai (User)
ü Data
ü Metode
Untuk mendukung
suatu Sistem Informasi Geografis, pada prinsipnya terdapat dua jenis data,
yaitu:
a. Data spasial
Data yang berkaitan dengan aspek
keruangan dan merupakan data yang menyajikan
lokasi geografis atau gambaran nyata suatu wilayah di permukaan bumi. Umumnya
direpresentasikan berupa grafik, peta, atau pun gambar dengan format
digital dan disimpan dalam bentuk koordinat x,y (vektor) ataudalam bentuk image
(raster) yang memiliki nilai tertentu.
b. Data non-spasial (atribut)
Data
non-spasial disebut juga data atribut, yaitu data yang menerangkan keadaan atau
informasi-informasi dari suatu objek (lokasi dan posisi) yang ditunjukkan
oleh data spasial. Salah satu komponen utama dari Sistem Informasi
Geografis adalah perangkat lunak (software). Dalam pendesainan peta digunakan
salah satu software SIG yaitu MapInfo Profesional 8.0.MapInfo merupakan sebuah
perengkat lunak Sistem Informasi Geografis dan pemetaan yang dikembangkan
oleh MapInfo Co. Perangkat lunak ini berfungsi sebagai alat yang dapat membantu dalam memvisualisasikan,
mengeksplorasi, menjawab query,
dan menganalisis data secara geografis.
D.
Evaluasi
Kebijakan SIG terhadap Pertanian dan Perkebunan
·
Peran Sistem Informasi Gegrafis (SIG) pada Setiap Prosedur
Evaluasi Sumber Daya Lahan Untuk Penentuan Penggunaan Lahan Tanaman Tahunan
Penilaian kondisi
lahan/evaluasi penting untuk dilakukan, dimana pada kawasan wilayah tertentu
kondisi lahan berbeda, sehingga fungsi serta peranannyapun berbeda untuk
keperluan tertentu. Berbagai sistem evaluasi lahan dilakukan dengan menggunakan
pendekatan yang berbeda, salah satunya adalah dengan menggunakan SIG, baik
dalam evaluasi kualitas lahan, karakteristik lahan, kemampuan lahan, serta
kesesuaian lahannya.
Terdapat
beberapa proses evaluasi lahan yang penggunaannya dilakukan dalam beberapa
tahapan/prosedur, yakni :
1. Penyusunan
karakteristik lahan
2. Penyusunan
persyaratan tumbuh tanaman/penggunaan lahan (LURs)
3. Proses evaluasi
kesesuaian lahan (Matching)
4. Kesesuaian lahan
terpilih/penentuan arahan penggunaan lahan untuk
tanaman tahunan.
Penyusunan karakteristik lahan
Karakteristik lahan merupakan gabungan dari
sifat-sifat lahan dan lingkungannya yang diperoleh dari data yang tertera pada
legenda peta tanah dan uraiannya, peta/data iklim dan peta topografi/elevasi.
Peranan SIG sangat besar pada tahap ini, dimana karakteristik lahan diuraikan
pada setiap satuan peta tanah (SPT) dari peta tanah, yang meliputi: bentuk
wilayah/lereng, drainase tanah, kedalaman tanah, tekstur tanah, pH tanah, KTK
liat, salinitas, dll akan dikodekan
dalam bentuk atribut pada lapisan peta tanah, yakni berupa pemetaan tanah unit
representatif. Sedangkan peta curah hujan dan suhu dibuat dari iklim data yang
telah diperoleh. Jenis infrastruktur dasar dipertimbangkan untuk analisis yang
menyangkut aksesibilitas jalan utama, kanal, pabrik pengolahan, dll. Dicatat
berdasarkan lokasi GPS. Aksesibilitas diukur dengan menggunakan teknik
buffering untuk tiap jenis infrastruktur. Jadi SIG pada tahap ini mampu
mempresentasikan atribut-atribut dari tanah dalam bentuk peta, seperti
keterangan diatas beserta zona ekologinya.
Penyusunan Persyaratan
Tumbuh Tanaman/Penggunaan Lahan (LURs)
Konsep kesesuaian agroekologi yang digunakan
sebagai persyaratan tumbuh tanaman merupakan perencanaan tata penggunaan lahan
melalui pengelompokan wilayah dengan kesamaan sifat dan kondisi wilayah dengan
bertujuan untuk menetapkan area pertanaman komoditi yang sesuai dengan
karakteristik lahan, iklim dan persyaratan pertumbuhan tanaman itu sendiri.
Hasil analisanya dalam bentuk delineasi agroekologi. yaitu data tabulasi luas
lahan zona agroekologi dan komoditi yang sesuai berdasarkan keadaan lahannya.
Penggunaan SIG akan menghasilkan zonasi lahan berdasarkan indikator-indikator
biofisik lahan itu sendiri, sebab SIG sendiri dapat berperan sebagai alat yang
dapat :
1.
Memetakan letak
Kemampuan ini memungkinkan seseorang untuk mencari dimana
letak suatu daerah, benda, atau lainnya di permukaan bumi. Fungsi ini dapat
digunakan sebagai penentu letak, mis : lahan bukaan baru, lahan garapan,
perumahan, dll.
2. Memetakan Kuantitas
Pengunaan sebaran kuantitas dapat mencari tempat-tempat yang
sesuai dengan kriteria yang diinginkan dan digunakan untuk pengambilan
keputusan, ataupun juga untuk mencari hubungan dari masing-masing tempat
tersebut sebagai dasar untuk menentukan syarat tumbuh tanaman/penggunaan lahan.
3. Memetakan Kerapatan
Peta kerapatan dapat mengubah bentuk konsentrasi kedalam
unit-unit yang lebih mudah untuk dipahami dan seragam dengan menggunakan
perbedaan warna untuk menandai tiap-tiap kelas kerapatan. Pemetaan kerapatan
berguna untuk data-data yang berjumlah besar seperti sensus atau data statistik
daerah.
4. Memetakan Perubahan
Dengan memasukkan variabel waktu, SIG dapat dibuat untuk
peta historikal. Histori ini dapat digunakan untuk memprediksi keadaan yang
akan datang dan dapat pula digunakan untuk evaluasi kebijaksanaan. Seorang
manajer pemasaran dapat melihat perbandingan peta penjualan sebelum dan sesudah
dilakukannya promosi untuk melihat efektivitas dari promosinya.
5.
Memetakan apa yang ada di dalam dan
di luar suatu area.
SIG
digunakan juga untuk memonitor apa yang terjadi dan keputusan apa yang akan
diambil dengan memetakan apa yang ada pada suatu area dan apa yang ada diluar
area.
Proses Evaluasi
Kesesuaian Lahan (Matching)
SIG berguna sebagai alat yang berguna sebagai analisis
kesesuaian lahan sebagai bentuk pencocokan kondisi tanaman terhadap lahan itu
sendiri. Dengan menggunakna SIG setelah didapatkan data lapangan kondisi lahan
dapat dianalisis kesesuaiannya terhadap tanaman yang akan ditanam. Selain itu SIG dapat dapat menentukan sebaran areal irigasi
yang berfungsi maupun yang tidak, misal masalah-masalah lahan seperti erosi,
bencana alam, dsb, sehingga SIG dapat membantu pembuatan perencanaan
masing-masing wilayah tersebut dan hasilnya dapat digunakan sebagai acuan untuk
pembagunan utilitas-utilitas yang diperlukan.
Dengan
kemampuan SIG yang bisa memetakan apa yang ada diluar dan didalam suatu area,
kriteria-kriteria ini nanti akan digabungkan sehingga memunculkan irisan daerah
yang tidak sesuai, agak sesuai, dan sangat sesuai dengan seluruh kriteria.
Kesesuaian Lahan Terpilih/Penentuan Arahan Penggunaan Lahan
untuk Tanaman Tahunan
Secara garis besar, yang dapat dilakukan GIS dalam bidang pertanian adalah
mencakup inventarisasi, manajemen, dan kesesuaian lahan untuk pertanian,
perkebunan, perikanan, kehutanan, perencanaan tata guna lahan, dll. Lebih
signifikan lagi setelah mendapatkan data-data tersebut, maka SIG dapat berperan
untuk mengelola hal-hal yang menyangkut produksi tanaman dan produktivitas
lahan, sehingga dengan SIG dapat diketahui kondisi kesesuaian lahannya
berdasarkan keadaan lahan actual dan potensialnya. Untuk menyusun arahan
penggunaan lahan dipertimbangkan prioritas daerah dan penggunaan lahan aktual.
Dalam penyusunan kesesuaian lahan terpilih, dikelompokkan berdasarkan kelas
kesesuaian, misal termasuk kelas Sesuai (S1 dan S2), dan kelas Sesuai Marginal
(kelas S3). Maka kondisi lahan berdasarkan karakteristik disesuaikan dengan
tanaman yang akan ditanam. SIG berperan dalam optimalisasi rencana penanaman,
mempermudah penentuan tempat tanam, seleksi lahan terpilih, area irigasi dan
penanamannya. Dengan SIG akan mempermudah menentukan zona ekologi yang
strategis serta infomasi-informasi yang dapat digunakan sebagai acuan
pengoptimalan produktivitas tanaman tahunan.[3]
E.
Manfaat SIG untuk Pertanian
Berkelanjutan Indonesia
Manfaat yang
dapat diperoleh melalui kegiatan aplikasi teknologi informasi dan komunikasi khususnya dalam
mendukung pembangunan
pertanian
berkelanjutan di antaranya adalah:
1. Mendorong terbentuknya jaringan informasi pertanian di
tingkat lokal dan nasional.
2. Membuka akses petani terhadap informasi pertanian untuk:
· Meningkatkanpeluang potensi
peningkatan pendapatan dan cara pencapaiannya;
· Meningkatkan
kemampuan petani dalam meningkatkan posisi tawarnya, serta
· Meningkatkan kemampuan petani dalam melakukan
diversifikasi usaha
tani dan merelasikan
komoditas yang diusahakannya dengan input yang tersedia,jumlah produksiyang
diperlukan dan kemampuan pasar menyerap output.
3. Mendorong terlaksananya kegiatan pengembangan,
pengelolaan danpemanfaatan informasipertanian secara langsung maupun tidak
langsung untuk mendukung pengembanganpertanian lahan marjinal.
4. Memfasilitasi dokumentasi informasi pertanian di tingkat
lokal (indigeneous knowledge) yang dapat
diakses secara lebih luas untuk mendukung pengembangan pertanian lahan marjinal.[4]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
SIG berguna sebagai alat yang
berguna sebagai analisis kesesuaian lahan sebagai bentuk pencocokan kondisi
tanaman terhadap lahan itu sendiri. Dengan menggunakna SIG setelah didapatkan
data lapangan kondisi lahan dapat dianalisis kesesuaiannya terhadap tanaman
yang akan ditanam.
Daftar Pustaka
http://inblueair.wordpress.com/2009/12/15/gis-geographic-information-system-dalam-bidang-ppertanian/
[1]
http://p3m.amikom.ac.id/p3m/dasi/juni07/02%20-%20STMIK%20AMIKOM%20Yogyakarta%20Sistem%20Informasi%20Geografi,%20Pengertian%20dan%20Pemanfaatannya.pdf
[2] http://kickfahmi.blogspot.com/2012/10/aplikasi-SIG-untuk-mendukung-kegiatan_18.html diakses pada tanggal 2/4/2013
[4] http://kickfahmi.blogspot.com/2012/10/aplikasi-SIG-untuk-mendukung-kegiatan_18.html diakses pada tanggal 2/4/2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar