Sabtu, 18 Juli 2026

SIG



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Perkembangan pemanfaatan data spasial dalam dekade belakangan ini meningkat dengan sangat drastis. Hal ini berkaitan dengan meluasnya pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan perkembangan teknologi dalam memperoleh, merekam dan mengumpulan data yang bersifat keruangan (spasial). Teknologi tinggi seperti Global Positioning System (GPS), remote sensing dan total station, telah membuat perekaman data spasial digital relatif lebih cepat dan mudah. Kemampuan penyimpanan yang semakin besar, kapasitas transfer data yang semakin meningkat, dan kecepatan proses data yang semakin cepat menjadikan data spasial merupakan bagian yang tidak terlepaskan dari perkembangan teknologi informasi.
Sistem informasi atau data yang berbasiskan keruangan pada saat ini merupakan salah satu elemen yang paling penting, karena berfungsi sebagai pondasi dalam melaksanakan dan mendukung berbagai macam aplikasi. Sebagai contoh dalam bidang lingkungan hidup, perencanaan pembangunan, tata ruang, manajemen transportasi, pengairan, sumber daya mineral, sosial dan ekonomi, dll. Oleh karena itu berbagai macam organisasi dan institusi menginginkan untuk mendapatkan data spasial yang konsisten, tersedia serta mempunyai aksesibilitas yang baik. Terutama yang berkaitan dengan perencanaan ke depan, data geografis masih dirasakan mahal dan membutuhkan waktu yang lama untuk memproduksinya (Rajabidfard, A. dan I.P. Williamson 2000).
1.2. Rumusan Masalah
1.      Apa saja fungsi SIG secara keseluruhan?
2.      Bagaimana Fungsi dan Manfaat SIG dalam bidang pertanian dan perkebunan?
3.      Bagaimana data spasial dan atribut SIG untuk kepentingan dalam bidang Pertanian dan perkebunan?
4.      Bagaimana Evaluasi Kebijakan SIG dalam Pertanian dan Perkebuan ?
1.3. Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui fungsi SIG secara keseluruhan.
2.      Untuk mengetahui fungsi dan manfaat SIG dalam bidang pertanian dan perkebunan.
3.      Untuk mengetahui data spasial dan atribut yang dibutuhkan untuk bidang pertanian dan perkebunan .
4.      Untuk mengetahui evaluasi kebijakan SIG dalam pertanian dan perkebunan
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Fungsi Sistem Informasi Geografi (SIG)
Berdasarkan desain awalnya fungsi utama SIG adalah untuk melakukan analisis data spasial. Dilihat dari sudut pemrosesan data geografik, SIG bukanlah penemuan baru. Pemrosesan data geografik sudah lama dilakukan oleh berbagai macam bidang ilmu, yang membedakannya dengan pemrosesan lama hanyalah digunakannya data digital.
Adapun fungsi -fungsi dasar dalam SIG adalah sebagai berikut :
1.      Akuisisi data dan proses awal meliputi: digitasi, editing, pembangunan topologi, konversi format data, pemberian atribut dll.
2.      Pengelolaan database meliputi : pengarsipan data, permodelan bertingkat, pemodelan jaringan pencarian atribut dll.
3.      Pengukuran keruangan dan analisis meliputi : operasi pengukuran, analisis daerah penyanggga, overlay, dll.
4.      Penayangan grafis dan visualisasai meliputi : transformasi skala, generalisasi, peta topografi, peta statistic, tampilan perspektif.[1]

B.     Fungsi SIG dalam Bidang Pertanian dan Perkebunan
Dalam dunia yang serba digital sekarang ini, ditambah lagi teknologi yang terus berkembang, penerapan aplikasi teknologi dalam berbagai bidang pun terus dilakukan, tidak terkecuali dalam sektor pertanian, sektor perekonomian utama diIndonesia mengingat sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dalam dunia pertanian. Secara garis besar, yang dapat dilakukan SIG dalam bidang pertanian adalah mencakup inventarisasi, manajemen, dan kesesuaian lahan untuk pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, perencanaan tata guna lahan, dan sebagainya.Yang dapat dibantu SIG untuk dunia pertanian adalah:
1.      Mengelola Produksi Tanaman SIG dapat digunakan untuk membantu mengelola sumber daya pertanian danperkebunan seperti luas kawasan untuk tanaman, pepohonan, atau saluran air.Kita dapat menggunakan SIG untuk menetapkan masa panen,mengembangkan sistem rotasi tanam, dan melakukan perhitungan secaratahunan terhadap kerusakan tanah yang terjadi karena perbedaan pembibitan,penanaman, atau teknik yang digunakan dalam masa panen.
2.      Mengelola Sistem Irigasi Kita dapat menggunakan SIG untuk membantu memantau dan mengendalikanirigasi dari tanah-tanah pertanian. SIG dapat membantu memantau kapasitassistem, katup-katup, efisiensi, serta distribusi menyeluruh dari air di dalamsistem.
3.      Perencanaan dan riwayat sumber daya kehutananPerencanaan dan riwayat manajemen pertanahan serta integrasinya dengansistem hukum dan integrasinya dengan manajemen basis data relasionalsistem-sistem. ArcView, aplikasi untuk SIG penggunaan SIG ini biasanyadengan aplikasi tertentu. Yang paling umum dipakai adalah ArcView.Walaupun saat ini penggunaan SIG dalam bidang pertanian belum umumdipakai, karena seringnya SIG diapakai untuk melihat kerusakan lahan akibatbencana alam, tapi bukanya tidak mungkin penerapan SIG dalam duniapertanian akan makin sering dipakai. Sistem SIG ini bukan semata-matasoftware atau aplikasi komputer, namun merupakan keseluruhan daripekerjaan managemen pengelolaan lahan pertanian, pemetaan lahan,pencatatan kegiatan harian di kebun menjadi database, perencanaan system  dan lain-lain. Sehingga bisa dikatakan merupakan perencanaan ulangpengelolaan pertanian menjadi sistem yang terintegrasi.
SIG memberikan banyak manfaat terhadap pertanian dan perkebunan, salah satu contoh dari fungsi SIG dalam bidang pertanian adalah :
1)     Pemantauan produksi dibidang pertanian
Aplikasi SIG di bidang pertanian sangat dibttuhkan guna mendapatkan hasil produksi yang maksimal dan memuaskan. Aspek – aspek yang biasanya menggunakan aplikasi SIG adalah pada bagian pemetaan atau peletakan komoditas yang sesuai dengan keadaan lahan pertanian tersebut.
Peningkatan produksi dengan masukan bahan kimia yang rendah, seperti pemupukan, sangat diperlukan karena sejak tahun 1980 kegiatan pertanian untuk produksi pangan yang tidak terkontrol menjadi penyebab pencemaran lingkungan.  Sebagai contoh aplikasi pupuk nitrogen dan fosfor yang berlebihan menjadi penyebab terjadinya pemanasan global dan hujan asam.  Salah satu masalah utama yang dihadapi bagi kehidupan manusia adalah pencemaran air tanah oleh nitrogen nitrat.
Modeling produksi tanaman merupakan salah satu contoh aplikasi SIG di bidangpertanian. Permodelan dengan menggunakan SIG menawarkan suatu mekanismeyang mengintegrasikan berbagai jenis data (biofisik) yang dikembangkan ataudigunakan dalam penelitian pertanian. Monitoring kondisi tanaman pertaniansepanjang musim tanaman serta prediksi potensi hasil panen berperan penting dalammenganalisis produksi musiman. Informasi hasil panen yang akurat dan terkini sangatdibutuhkan oleh departemen pertanian berbagai negara.
Aplikasi SIG juga sangat membantu dalam memantau keadaan – keadaan di sekitar wilayah pertanian tersebut, misalnya dalam mengetahui wilayah – wilayah yang terserang hama atau penyakit, wilayah – wilayah yang telah siap diproduksi Pemantauan ini dilakukan dari jarak jauh dengan menggunakan aplikasi dengan sistem monitoring.
2)     Penilaian resiko usaha pertanian
SIG dapat digunakan untuk membantu mengelola sumberdaya pertanian dan perkebunan skala kawasan yang luas secara optimal dengan resiko gagal tanam dan gagal panen minimum. SIG menetapkan masa tanam yang tepat, memprediksi masa panen, mengembangkan sistem rotasi tanam, dan melakukan perhitungan secara tahunan terhadap debit, curah hujan dan scenario pola tanam dan jenis tanam yang paling menguntungkan secara ekonomi dan teknis.
Dalam teknologi pangan, SIG dapat digunakan untuk memetakan keberadaan tanamanpangan. Aplikasi SIG yang digunakan dalam teknologi pangan diantaranya adalahfoodtrace dan quality trace. Aplikasi ini telah dikembangkan oleh THailand. Denganaplikasi ini kita dapat memperoleh informasi mengenai bahan baku suatu produk baik itu dari segi mutu dan asal bahan baku. Di Thailand, salah satu perusahaanpengalengan jagung menggunakan aplikasi ini untuk mencantumkan informasi bahanbaku dan ada kode-kode yang dapat dicek oleh konsumen untuk mengetahui asalbahan baku. Selain itu, SIG juga dapat dipergunakan untuk memetakan ketahananpangan suatu wilayah berdasarkan data-data yang dimasukkan dalam SIG.
Penilaian risiko bisnis dilakukan dengan mengukur nilai penyimpangan yang terjadi.  Menurut (Anderson et al., 1977; Elton dan Gruber, 1995; dan Fariyanti, 2008) terdapat beberapa ukuran risiko di antaranya adalah nilai varian (variance), standar deviasi (standard deviation), dan koefisien variasi (coefficient variation). Secara praktis pengukuran varian dari penghasilan (return) merupakan penjumlahan selisih kuadrat dari return dengan ekspektasi return dikalikan dengan peluang dari setiap kejadian (Elton dan Gruber, 1995). Sedangkan standar deviasi dapat diukur dari akar kuadrat dari nilai varian.  Sementara itu, koefisien variasi dapat diukur dari rasio standar deviasi dengan return yang diharapkan (expected return) dari suatu aset. Penghasilan (return) yang diperoleh dapat berupa pendapatan, produksi atau harga. Koefisien variasi menunjukkan variabilitas return dan biasanya dihitung sebagai nilai persentase. Jika data penghasilan yang diharapkan (expected return) tidak tersedia dapat digunakan nilai rata-rata return.
Pelaku bisnis termasuk petani harus berhati-hati dalam menggunakan varian dan standar deviasi untuk meperbandingkan risiko, karena keduanya bersifat absolut dan tidak mempertimbangkan risiko dalam hubungannya dengan hasil yang diharapkan.  Untuk membandingkan aset dengan return yang diharapkan, pelaku bisnis atau petani dapat menggunakan koefisien variasi.  Nilai koefisien variasi merupakan ukuran yang sangat tepat bagi petani sebagai pengambil keputusan dalam memilih salah satu alternatif dari beberapa kegiatan usaha untuk setiap return yang diperoleh.  Dengan menggunakan ukuran koefisien variasi, perbandingan di antara kegiatan usaha sudah dilakukan dengan ukuran yang sama, yaitu risiko untuk setiap return.
3)     Pengendalian hama dan penyakit
Penerapan SIG pada bidang pertanian dan khususnya pada bidang Hama dan Penyakit Tumbuhan. Contohnya adalah pemetaan penyebaran penyakit di beberapa wilayah baik itu penyakit lama atau merupakan penyakit baru sehingga dengan pemanfaatan SIG dapat dilakukan pencegahan. Dalam bidang Hama dan Penyakit Tumbuhan, penerapan SIG dilakukan untuk melaksanakan pengendalian secara dini yang bersifat kewilayahan. Dengan pemanfaatan SIG serangan akan adanya penyakit dapat lebih diantisipasi.
Contohnya adalah pemetaan penyebaran penyakit di beberapa wilayah baik itupenyakit lama atau merupakan penyakit baru sehingga dengan pemanfaatan SIG dapatdilakukan pencegahan. Dalam bidang Hama dan Penyakit Tumbuhan, penerapan SIGdilakukan untuk melaksanakan pengendalian secara dini yang bersifat kewilayahan. Dengan pemenfaatan SIG serangan akan adanya penyakit dapat lebih diantisipasi.
4)     Pemantauan budidaya pertanian
SIG dapat digunakan untuk membantu mengelola sumberdaya pertanian dan perkebunan seperti luas kawasan untuk tanaman, pepohonan, atau saluran air. SIG dapat digunakan untuk pemantauan dalam tahap budidaya tanaman seperti dalam menetapkan masa panen, mengembangkan sistem rotasi tanam, dan melakukan perhitungan secara tahunan terhadap kerusakan tanah yang terjadi karena perbedaan pembibitan, penanaman, atau teknik yang digunakan dalam masa depan. SIG membantu neginventarisasi data – data lahan perkebunantebu menjadi lebih cepat dianalisis, seperti pada proses pembibitan, proses penanaman yang dapat dikelola oleh pengelola kebun.
Sebagai contoh dengan penggunaan aplikasi SIG kita dapat mengetahui keadaantanaman, parameter tanah, informasi mengenai lingkungan tumbuh di lapang,mendeteksi pertumbuhan tanaman, kadar air tanah dan tanaman, hama dan penyakittanaman, pemetaan sumber daya, irigasi, mengetahui kebutuhan pupuk, menentukanposisi lahan, monitoring lingkungan, dan lain sebagainya. SIG juga dapat digunakanuntuk membuat peta persebaran tanaman pangan dalam suatu wilayah, petapersebaran komoditi hortikultura, jenis tanah, dan lain sebagainya.
5)     Presisi pertanian
Pertanian Presisi (precision farming/PF) merupakan informasi dan teknologi pada sistem pengelolaan pertanian untuk mengidentifikasi, menganalisa, dan mengelola informasi keragaman spasial dan temporal di dalam lahan untuk mendapatkan keuntungan optimum, berkelanjutan, dan menjaga lingkungan.  Tujuan dari PF adalah mencocokkan aplikasi sumber daya dan kegiatan budidaya pertanian dengan kondisi tanah dan keperluan tanaman berdasarkan karakteristik spesifik lokasi di dalam lahan.  Hal tersebut berpotensi diperolehnya hasil yang lebih besar dengan tingkat masukan yang sama (pupuk, kapur, herbisida, insektisida, funSIGida, bibit), hasil yang sama dengan pengurangan input, atau hasil lebih besar dengan pengurangan masukan dibanding sistem produksi pertanian yang lain. PF mempunyai banyak tantangan sebagai sistem produksi tanaman sehingga memerlukan banyak teknologi yang harus dikembangkan agar dapat diadopsi oleh petani.  PF merupakan revolusi dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis teknologi informasi.
Pertanian Presisi (precision farming/PF ) merupakan informasi dan teknologi padasistem pengelolaan pertanian untuk mengidentifikasi, menganalisa, dan mengelolainformasi keragaman spasial dan temporal di dalam lahan untuk mendapatkankeuntungan optimum, berkelanjutan, dan menjaga lingkungan. Tujuan dari PF adalah mencocokkan aplikasi sumber daya dan kegiatan budidaya pertanian dengan kondisitanah dan keperluan tanaman berdasarkan karakteristik spesifik lokasi di dalam lahan.Pada saat ini banyak produsen tanaman menerapkan site-specific crop management (SSCM ). Pemantauan hasil secara elektronis (electronic yield monitoring) seringkalimenjadi tahap pertama dalam mengembangkan SSCM atau program PF. Data hasiltanaman yang presisi dapat digabungkan dengan data tanah dan lingkungan untuk memulai pelaksanaan pengembangan sistem pengelolaan tanaman secara presisi (precision crop management system).
PF  diprediksi pada geo-referencing, yaitu penandaan koordinat geografi untuk titik-titik pada permukaan bumi. Dengan global postioning system (GPS ) dimungkinkan menandai koordinat geografi untuk beberapaobjek atau titik dalam 5 cm, walaupun keakuratan dari aplikasi pertanian kisaranumumnya adalah 1 sampai 3 meter. GPS  adalah sistem navigasi berdasarkan satelityang dibuat dan dioperasikan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. GPStelah terbukti menjadi pilihan dalam postioning system untuk  PF. Metode untuk meningkatkan keakuratan pengukuran posisi disebut koreksi diferensial atau DGPS (differential global postiong system). Perangkat keras yang diperlukan adalah GPS receiver, differential correction signal receiver, GPS antenna, differential correctionantenna, dan computer/monitor interface.
PF sebagai teknologi baru yang sudah demikian berkembang di luar Indonesia perlu segera dimulai penelitiannya di Indonesia untuk memungkinkan perlakuan yang lebih teliti terhadap setiap bagian lahan sehingga dapat meningkatkan produktivitas dengan meningkatkan hasil, menekan biaya produksi dan mengurangi dampak lingkungan.  Maksud tersebut dapat dicapai dengan PF melalui kegiatan pembuatan peta hasil (yield map), peta tanah (soil map), peta pertumbuhan (growth map), peta informasi lahan (field information map), penentuan laju aplikasi (variable rate application), pembuatan yield sensor, pembuatan variable rate applicator, dan lain-lain. Penggabungan peta hasil, peta tanah, peta pertumbuhan tanaman menghasilkan peta informasi lahan (field information map) sebagai dasar perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan spesifik lokasi yaitu dengan diperolehnya variable rate application.  Pelaksanaan kegiatan ini akan lebih cepat dan akurat apabila sudah tersedia variable rate applicator.
PF diprediksi pada geo-referencing, yaitu penandaan koordinat geografi untuk titik-titik pada permukaan bumi.  Dengan global postioning system (GPS) dimungkinkan menandai koordinat geografi untuk beberapa objek atau titik dalam 5 cm, walaupun keakuratan dari aplikasi pertanian kisaran umumnya adalah 1 sampai 3 meter.  GPS adalah sistem navigasi berdasarkan satelit yang dibuat dan dioperasikan oleh Departemen Pertahanan Amerika  Serikat.  GPS telah  terbukti  menjadi  pilihan  dalam  postioning  system untuk PF.  Metode untuk meningkatkan keakuratan pengukuran posisi disebut koreksi diferensial atau DGPS (differential global postiong system).  Perangkat keras yang diperlukan adalah GPS receiver, differential correction signal receiver, GPS antenna, differential correction antenna, dan computer/monitor interface.
6)     Pengelolaan sumberdaya air
SIG bukan sebuah sistem yang mampu membuat keputusan secara otomatis. SIG hanya sebuah sarana untuk mengambil data, menganalisanya, dari kumpulan data berbasis pemetaan untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Teknologi SIG irigasi dapat membantu berbagai kegiatan pekerjaan seperti keputusan luas tanam aman berdasarkan informasi debit, membantu memecahkan masalah yang berkatan dengan kekeringan, atau keputusan tentang lokasi jaringan irigasi mana yang perlu direhabilitasi. SIG juga bisa digunakan untuk membantu meraih keputusan mengenai lokasi bendung baru yang memiliki sedikit mungkin dampak lingkungan atau minimal dalam pembebasan lahan pemukiman, berada di lokasi yang memilki resiko paling sedikit, dan berada pada posisi topografi yang optimal untuk mengairi arel yang paling luas.
Rice Irrigation Management System (RIMS) di Tanjung Karang,  Malaysia Sistem ini dikembangkan oleh Eltaeb Saeed, Rowshon, M.K., Amin, M.S.M. Tujuanpembangunan RIMS yang didukung teknologi SIG (Geographic Information System)adalah untuk melakukan efisiensi penggunaan air dan meningkatkan produktifitaslahan pertanian. Teknologi SIG berfungsi untuk menyimpan data ke dalam basis data komputer sehingga memungkinkan untuk melakukan analisa wilayah geografi dalamhal ini wilayah yang dilalui saluran irigasi. Kemampuan sistem RIMS yangmenggunakan teknologi SIG dapat mengembangkan manajemen air dengan baik.Sistem RIMS diterapkan di wilayah irigasi Tanjung Karang, Malaysia.
Perencanaan dan pengelolaan sumberdaya air yang baik mutlak diperlukan untuk menjaga kelestariannya. Untuk itu dipelukan informasi yang memadai yang bisa digunakan oleh pengambil keputusan, termasuk diantaranya informasi spasial. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan teknologi spasial yang sedang berkembang saat ini. Sebagaian besar aplikasi SIG untuk pengelolaan sumberdaya air masih sangat kurang di negara Indonesia meskipun perkembangan SIG sudah maju pesat di negara-negara lain. Perencanaan dan pengelolaan sumberdaya air harus dilakukan terpadu mulai dari sumber air sampai dengan pemanfaatannya. Informasi secara spasial akan sangat membantu pada proses pengambilan keputusan dalam pengelolaan sumberdaya air.
7)     Kajian biodiversitas bentang lahan untuk kegiatan pertanian berlanjut
Dalam aspek konservasi hutan dan keragaman hayati, menentukan area prioritas danhotspot dari keragaman hayati adalah hal paling mendasar. Aplikasi SIG untuk ini,baik di negara maju maupun di negara berkembang, sudah cukup banyak. Hutantropis mempunyai peranan yang signifikan dalam perubahan iklim global. SIGmerupakan alat yang sangat berguna dalam penelitian perubahan iklim, yaitu dalamhal pengorganisasian data, dalam bentuk basisdata global, dan kemampuan analisaspasial untuk pemodelan. Aplikasi SIG untuk penelitian perubahan iklim berkembangpesat, tetapi untuk negara berkembang masih sangat terbatas. Basisdata spasial akansemakin penting dalam hal mendukung pengambilan keputusan yang berkaitandengan pengelolaan hutan. Beberapa basisdata global yang mencakup area hutantropis sudah tersedia, yaitu meliputi basisdata topografi, hutan tropis basah, iklimglobal, perubahan iklim global, citra satelit, konservasi dan tanah. [2]

C.    Data Spasial dan Data Atribut yang Dibutuhkan dalam SIG untuk Pertanian dan Perkebunan
Penjelasan aplikasi tersebut terkait dengan dimana kegiatan tersebut dilakukan, pada sistem pertanian yang bagaimana penerapkan SIG tersebut dilakukan, macam data spatial apa saja yang dibutuhkan dalam menyusun contoh tersebut, bagaimana manfaat penerapan SIG tersebut dalam menjalankan sistem pertanian.
§  Konsep SIG
Sumber data untuk keperluan SIG dapat berasal dari data citra, data lapangan,survey kelautan, peta, sosial ekonomi, dan GPS. Selanjutnya diolah dilaboratorium atau studio SIG dengan software tertentu sesuai dengankebutuhannya untuk menghasilkan produk berupa informasi yang berguna, bisaberupa peta konvensional, maupun peta digital sesuai keperluan user, maka harusada input kebutuhan yang diinginkan user.
§  Komponen SIG
Komponen utama Sistem Informasi Geografis dapat dibagi ke dalam limakomponen utama, yaitu:
ü  Perangkat keras (Hardware)
ü  Perangkat lunak (Software)
ü  Pemakai (User)
ü  Data
ü  Metode
Untuk mendukung suatu Sistem Informasi Geografis, pada prinsipnya terdapat dua jenis data, yaitu:
a.       Data spasial
Data yang berkaitan dengan aspek keruangan dan merupakan data yang menyajikan lokasi geografis atau gambaran nyata suatu wilayah di permukaan bumi. Umumnya direpresentasikan berupa grafik, peta, atau pun gambar dengan format digital dan disimpan dalam bentuk koordinat x,y (vektor) ataudalam bentuk image (raster) yang memiliki nilai tertentu.
b.      Data non-spasial (atribut)
Data non-spasial disebut juga data atribut, yaitu data yang menerangkan keadaan atau informasi-informasi dari suatu objek (lokasi dan posisi) yang ditunjukkan oleh data spasial. Salah satu komponen utama dari Sistem Informasi Geografis adalah perangkat lunak (software). Dalam pendesainan peta digunakan salah satu software SIG yaitu MapInfo Profesional 8.0.MapInfo merupakan sebuah perengkat lunak Sistem Informasi Geografis dan pemetaan yang dikembangkan oleh MapInfo Co. Perangkat lunak ini berfungsi sebagai alat yang dapat membantu dalam  memvisualisasikan,  mengeksplorasi, menjawab query, dan menganalisis data secara geografis.

D.    Evaluasi Kebijakan SIG terhadap Pertanian dan Perkebunan

·               Peran Sistem Informasi Gegrafis (SIG) pada Setiap Prosedur Evaluasi Sumber Daya Lahan Untuk Penentuan Penggunaan Lahan Tanaman Tahunan
Penilaian kondisi lahan/evaluasi penting untuk dilakukan, dimana pada kawasan wilayah tertentu kondisi lahan berbeda, sehingga fungsi serta peranannyapun berbeda untuk keperluan tertentu. Berbagai sistem evaluasi lahan dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang berbeda, salah satunya adalah dengan menggunakan SIG, baik dalam evaluasi kualitas lahan, karakteristik lahan, kemampuan lahan, serta kesesuaian lahannya.
Terdapat beberapa proses evaluasi lahan yang penggunaannya dilakukan dalam beberapa tahapan/prosedur, yakni :
1. Penyusunan karakteristik lahan
2. Penyusunan persyaratan tumbuh tanaman/penggunaan lahan (LURs)
3. Proses evaluasi kesesuaian lahan (Matching)
4. Kesesuaian lahan terpilih/penentuan arahan penggunaan lahan untuk
    tanaman tahunan.
Penyusunan karakteristik lahan
Karakteristik lahan merupakan gabungan dari sifat-sifat lahan dan lingkungannya yang diperoleh dari data yang tertera pada legenda peta tanah dan uraiannya, peta/data iklim dan peta topografi/elevasi. Peranan SIG sangat besar pada tahap ini, dimana karakteristik lahan diuraikan pada setiap satuan peta tanah (SPT) dari peta tanah, yang meliputi: bentuk wilayah/lereng, drainase tanah, kedalaman tanah, tekstur tanah, pH tanah, KTK liat, salinitas, dll akan dikodekan dalam bentuk atribut pada lapisan peta tanah, yakni berupa pemetaan tanah unit representatif. Sedangkan peta curah hujan dan suhu dibuat dari iklim data yang telah diperoleh. Jenis infrastruktur dasar dipertimbangkan untuk analisis yang menyangkut aksesibilitas jalan utama, kanal, pabrik pengolahan, dll. Dicatat berdasarkan lokasi GPS. Aksesibilitas diukur dengan menggunakan teknik buffering untuk tiap jenis infrastruktur. Jadi SIG pada tahap ini mampu mempresentasikan atribut-atribut dari tanah dalam bentuk peta, seperti keterangan diatas beserta zona ekologinya.
Penyusunan Persyaratan Tumbuh Tanaman/Penggunaan Lahan (LURs)
Konsep kesesuaian agroekologi yang digunakan sebagai persyaratan tumbuh tanaman merupakan perencanaan tata penggunaan lahan melalui pengelompokan wilayah dengan kesamaan sifat dan kondisi wilayah dengan bertujuan untuk menetapkan area pertanaman komoditi yang sesuai dengan karakteristik lahan, iklim dan persyaratan pertumbuhan tanaman itu sendiri. Hasil analisanya dalam bentuk delineasi agroekologi. yaitu data tabulasi luas lahan zona agroekologi dan komoditi yang sesuai berdasarkan keadaan lahannya. Penggunaan SIG akan menghasilkan zonasi lahan berdasarkan indikator-indikator biofisik lahan itu sendiri, sebab SIG sendiri dapat berperan sebagai alat yang dapat :
1.      Memetakan letak
Kemampuan ini memungkinkan seseorang untuk mencari dimana letak suatu daerah, benda, atau lainnya di permukaan bumi. Fungsi ini dapat digunakan sebagai penentu letak, mis : lahan bukaan baru, lahan garapan, perumahan, dll.
2.      Memetakan Kuantitas
Pengunaan sebaran kuantitas dapat mencari tempat-tempat yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan dan digunakan untuk pengambilan keputusan, ataupun juga untuk mencari hubungan dari masing-masing tempat tersebut sebagai dasar untuk menentukan syarat tumbuh tanaman/penggunaan lahan.
3.      Memetakan Kerapatan
Peta kerapatan dapat mengubah bentuk konsentrasi kedalam unit-unit yang lebih mudah untuk dipahami dan seragam dengan menggunakan perbedaan warna untuk menandai tiap-tiap kelas kerapatan. Pemetaan kerapatan berguna untuk data-data yang berjumlah besar seperti sensus atau data statistik daerah.
4.      Memetakan Perubahan
Dengan memasukkan variabel waktu, SIG dapat dibuat untuk peta historikal. Histori ini dapat digunakan untuk memprediksi keadaan yang akan datang dan dapat pula digunakan untuk evaluasi kebijaksanaan. Seorang manajer pemasaran dapat melihat perbandingan peta penjualan sebelum dan sesudah dilakukannya promosi untuk melihat efektivitas dari promosinya.
5.      Memetakan apa yang ada di dalam dan di luar suatu area.
SIG digunakan juga untuk memonitor apa yang terjadi dan keputusan apa yang akan diambil dengan memetakan apa yang ada pada suatu area dan apa yang ada diluar area.

Proses Evaluasi Kesesuaian Lahan (Matching)
            SIG berguna sebagai alat yang berguna sebagai analisis kesesuaian lahan sebagai bentuk pencocokan kondisi tanaman terhadap lahan itu sendiri. Dengan menggunakna SIG setelah didapatkan data lapangan kondisi lahan dapat dianalisis kesesuaiannya terhadap tanaman yang akan ditanam. Selain itu SIG dapat dapat menentukan sebaran areal irigasi yang berfungsi maupun yang tidak, misal masalah-masalah lahan seperti erosi, bencana alam, dsb, sehingga SIG dapat membantu pembuatan perencanaan masing-masing wilayah tersebut dan hasilnya dapat digunakan sebagai acuan untuk pembagunan utilitas-utilitas yang diperlukan.
Dengan kemampuan SIG yang bisa memetakan apa yang ada diluar dan didalam suatu area, kriteria-kriteria ini nanti akan digabungkan sehingga memunculkan irisan daerah yang tidak sesuai, agak sesuai, dan sangat sesuai dengan seluruh kriteria.

Kesesuaian Lahan Terpilih/Penentuan Arahan Penggunaan Lahan untuk Tanaman Tahunan
Secara garis besar, yang dapat dilakukan GIS dalam bidang pertanian adalah mencakup inventarisasi, manajemen, dan kesesuaian lahan untuk pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, perencanaan tata guna lahan, dll. Lebih signifikan lagi setelah mendapatkan data-data tersebut, maka SIG dapat berperan untuk mengelola hal-hal yang menyangkut produksi tanaman dan produktivitas lahan, sehingga dengan SIG dapat diketahui kondisi kesesuaian lahannya berdasarkan keadaan lahan actual dan potensialnya. Untuk menyusun arahan penggunaan lahan dipertimbangkan prioritas daerah dan penggunaan lahan aktual. Dalam penyusunan kesesuaian lahan terpilih, dikelompokkan berdasarkan kelas kesesuaian, misal termasuk kelas Sesuai (S1 dan S2), dan kelas Sesuai Marginal (kelas S3). Maka kondisi lahan berdasarkan karakteristik disesuaikan dengan tanaman yang akan ditanam. SIG berperan dalam optimalisasi rencana penanaman, mempermudah penentuan tempat tanam, seleksi lahan terpilih, area irigasi dan penanamannya. Dengan SIG akan mempermudah menentukan zona ekologi yang strategis serta infomasi-informasi yang dapat digunakan sebagai acuan pengoptimalan produktivitas tanaman tahunan.[3]

E.     Manfaat SIG untuk Pertanian Berkelanjutan Indonesia
Manfaat yang dapat diperoleh melalui kegiatan aplikasi teknologi informasi dan komunikasi khususnya dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan di antaranya adalah:
1.      Mendorong terbentuknya jaringan informasi pertanian di tingkat lokal dan nasional.
2.      Membuka akses petani terhadap informasi pertanian untuk:
·      Meningkatkanpeluang potensi peningkatan pendapatan dan cara pencapaiannya;
·        Meningkatkan kemampuan petani dalam meningkatkan posisi tawarnya, serta
·      Meningkatkan kemampuan petani dalam melakukan diversifikasi usaha tani dan merelasikan komoditas yang diusahakannya dengan input yang tersedia,jumlah produksiyang diperlukan dan kemampuan pasar menyerap output.
3.      Mendorong terlaksananya kegiatan pengembangan, pengelolaan danpemanfaatan informasipertanian secara langsung maupun tidak langsung untuk mendukung pengembanganpertanian lahan marjinal.
4.      Memfasilitasi dokumentasi informasi pertanian di tingkat lokal (indigeneous knowledge) yang dapat diakses secara lebih luas untuk mendukung pengembangan pertanian lahan marjinal.[4]





BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
SIG berguna sebagai alat yang berguna sebagai analisis kesesuaian lahan sebagai bentuk pencocokan kondisi tanaman terhadap lahan itu sendiri. Dengan menggunakna SIG setelah didapatkan data lapangan kondisi lahan dapat dianalisis kesesuaiannya terhadap tanaman yang akan ditanam.























Daftar Pustaka



[1] http://p3m.amikom.ac.id/p3m/dasi/juni07/02%20-%20STMIK%20AMIKOM%20Yogyakarta%20Sistem%20Informasi%20Geografi,%20Pengertian%20dan%20Pemanfaatannya.pdf